Thursday, December 20, 2012

Seluk-beluk SPBU Pertamina Self-Service


Pertamina mulai mencoba menerapkan sistem swalayan (self-service) untuk beberapa SPBU di Jakarta dan sekitarnya. Dimana saja?

Dikutip dari finance.detik.com (6/8/12), beberapa titik SPBU milik Pertamina yang mulai menerapkan sistem swalayan adalah:
  1. SPBU Hasyim Ashari, Tanah Abang, Jakarta Pusat
  2. SPBU Jembatan Tiga,
  3. SPBU Ketapang,
  4. SPBU Kelapa Dua dan
  5. SPBU CBD Tangerang.
Saya sendiri berkesempatan untuk mencoba SPBU swalayan di lokasi Tangerang. Seperti dikutip dari twit berikut

Saat itu masih dalam tahap percobaan, petugas yang beroperasi hanya dua orang. Satu petugas untuk menerima pembayaran di awal antrean, satu lagi petugas untuk mengawasi dan membantu pelanggan saat mengisi BBM secara swalayan.
Berikut ini kronologi pengisian BBM swalayan:
  1. Pelanggan memasuki antrean di kasir untuk nantinya membayar BBM dengan menyebutkan nominal rupiah (berapa ribu) atau nominal volume BBM (berapa liter) serta jangan lupa jenis BBM (subsidi/non-subsidi) yaitu premium atau pertamax.
  2. Pelanggan menerima struk yang nantinya akan digunakan untuk mengisi BBM di mesin pengisi.
  3. Pelanggan mengisi BBM di mesin pengisi dengan cara menempelkan barcode pada struk yang didapat sebelumnya. Jumlah volume dan rupiah pengisian akan secara otomatis tertera di layar mesin pengisi.
  4. Setelah menempelkan, selang pengisi diangkat lalu dimasukkan ke tangki kendaraan, lalu pelanggan menekan trigger agar BBM mengalir ke tanki.
  5. BBM akan berhenti mengalir saat:
    1. BBM yang dibeli sesuai nominal tertera di layar sudah mencapai batas
    2. BBM sudah menyentuh ujung selang pengisi, namun masih bisa diteruskan dengan cara mengangkat perlahan ujung selang pengisi.
  6. Pelanggan meletakkan selang pengisi ke tempatnya.
Dari kronologi tersebut, salah satu masalah yang akan muncul adalah sulitnya mengisi BBM full-tank. Mengapa? Karena pembayaran dilakukan di awal transaksi.

Selama ini jika pelanggan menginginkan pengisian full-tank, maka cukup memberitahukan ke petugas, dan petugas akan mengira-ngira pengisian hingga BBM memenuhi tanki dengan pas. Setelahnya baru pelanggan akan membayar berapa nominal rupiahnya.

Setelah sistem swalayan diterapkan, maka pembayaran akan dilakukan di awal transaksi, di awal antrean. Sehingga pelanggan sendirilah yang harus mengira-ngira berapa nominal yang harus dibayar atau berapa volume yang harus disebutkan agar pengisian BBM tepat full-tank.

Masalah lain yang akan muncul tentunya adalah dampak dari pengurangan pegawai SPBU yang bertugas. Ini tentu berkaitan dengan efisiensi. Artinya akan ada pengurangan pegawai secara besar-besaran.

Referensi:

No comments: